JADI NOMOR SATU

Rasa haru tak bisa ditahan mengenang momen-momen di mana kita mendengar berita "Indonesia nomor satu di dunia". Rudy Hartono juara...

Rasa haru tak bisa ditahan mengenang momen-momen di mana kita mendengar berita "Indonesia nomor satu di dunia". Rudy Hartono juara bulutangkis terlama di dunia, Ellyas Pical juara tinju, dan berita yang terakhir, di tengah gonjang-ganjing dunia pendidikan nasional, Tim Olimpiade Fisika Indonesia meraih juara umum. "... bahkan, Jonathan berhasil mengalahkan 380 siswa dari 84 negara dan meraih gelar Absolutely Winner. TOFI nomor satu di dunia!"

Sayangnya, predikat nomor satu mulai menjadi ungkapan langka. Bahkan, ada kebiasaan tersenyum sinis untuk menerima predikat nomor "buncit" mengenai kinerja sumber daya manusia Indonesia di pasaran global, "rangking" untuk negara yang sarat korupsi, dengan berpikiran: "Ah.., yang penting bukan saya...!" Pertanyaan untuk kita semua adalah, apa yang sebenarnya bisa kita mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang dan mulai dari hal yang kecil?


Berobsesi Jadi Pemenang, Kenapa tidak? Banyak orang tua meyakinkan putra-putrinya agar tidak cemas bila tidak mendapatkan rangking di sekolah. Kita lupa bahwa `tidak perlu'-nya seorang anak menjadi pemenang di bidang akademik bukan berarti dia tidak bisa menjadi pemenang di bidang lain, seperti memenangkan permainan, olah raga, kesenian, ketrampilan bergaul, atau bahkan di situasi kemanusiaan seperti menolong orang lain. Sense of success perlu di upayakan sejak dini, dalam segala hal, sehingga setiap individu mempunyai keyakinan bahwa ia bisa menjadi pemenang. Selain itu latihan untuk bersikap fair dalam menghadapi kekalahan juga hanya bisa dirasakan individu bila ia sendiri memang tertantang untuk berlomba. Amati potensi kita baikbaik, `think big', dan beraspirasi tinggi untuk membuat tantangan yang realistik.

Perlombaan Ada di LUAR! Bila ingin sungguh-sungguh jadi `pemenang, jangan berorientasi `ke dalam". Tidak bisa sekedar berorientasi ke internal perusahaan, internal kota sendiri, internal negara sendiri, dan hanya menjadi "jago kandang". Berorientasilah ke pelanggan karena membuat pelanggan happy membuat kita berjiwa pemenang. Berorientasilah ke mitra bisnis, mitra profesi. Buka wawasan dan lakukan riset mengenai sukses dan kiat yang dilakukan oleh orang lain, perusahaan lain, karyawan dari perusahaan lain. Simpan keyakinan: "Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak bisa?"

Lomba Memang "Fun", tetapi Bersikaplah Serius Lomba bagai permainan yang mengasyikkan tetapi upaya memenangkannya bukan lelucon. Seringkali ada tindakan tidak populer yang harus dilakukan, seperti minggir dulu, melawan arus, ciptakan hal baru, memisahkan diri untuk berlatih keras, tolak ajakan teman untuk bersantai, bahkan bersikap keras dalam mempertahankan prinsip. Semua itu akan membawa hasil akhir belakangan dan baru terasa kenikmatannya bila sudah memenangkan suatu situasi. Keluarga Item, perenang zaman dahulu, sudah berada di kolam renang sejak pukul 4 pagi. Para juara olimpiade fisika memasuki karantina selama 1 tahun, bekerja keras, berlatih dan tetap harus berupaya sekolah. Bukankah ini sesuatu yang sangat serius? Pertanyaannya, seserius apa perjuangan kita untuk menjadi nomor satu?

Saat Ragu, Bergeraklah Seringkali jalur karier atau studi kita meragukan. Pada saat seperti itu, yakinkan bahwa berdiam diri tidak menguntungkan. Jangan terlena dalam analisa, analisa, dan analisa yang tidak membawa kita ke mana-mana. Terlena dalam analisa membuat kita bahkan ketinggalan kereta. Berpikir memang perlu, tetapi kita perlu melakukan sesuatu, dan tak perlu menunggu sampai hasil pemikiran kita perfect betul. Lakukan sesuatu, dengarkan intuisi Anda, bergeraklah sesuai kata hati. Pada saatnya Anda akan menemukan jalur Anda kembali.

Lawan Sikap Kurang Percaya Diri Dengan Antusiasme Dalam latihan-latihan outbound yang kami selenggarakan, banyak sekali keberanian dimunculkan hanya karena antusiasme para peserta. Para peserta yang tidak pernah berani melewati jembatan tali tinggi akhirnya bisa memutuskan untuk melakukannya hanya karena antusiasme yang ditularkan teman-temannya. Selain kenyataan bahwa sikap antusias itu menular, sikap tersebut juga sangat berguna untuk menggali potensi ketrampilan dan kreativitas yang selama ini terbelenggu oleh rasa tidak percaya diri atau situasi emosi lainnya. Bahkan banyak pemenang yang bisa berhasil
hanya dengan bermodalkan antusiasme yang tidak ada habisnya. Relaks Setiap Saat, Bekerja Setiap Saat Biarkan diri kita terlena, dan tertidur setiap saat tubuh menuntut untuk beristirahat, di dalam bis, pada saat mata perih memandang komputer. Dengan demikian kita juga memperbolehkan diri kita untuk menikmati pekerjaan dan berpikir, 24 jam sehari 7 hari seminggu. Relaks, berpikir dan kerja keras bisa dilakukan dalam waktu yang bersamaan. ***

Sumber: Jadi Nomor Satu! oleh Eileen Rachman, EXPERD

COMMENTS

Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content