Penderita jiwa yang pernah dialami manusia adalah bertingkat mulai dari konflik batin, neurosis (gangguan jiwa) sampai pada psikosis ( peny...
Penderita jiwa yang pernah dialami manusia adalah bertingkat mulai dari konflik batin, neurosis (gangguan jiwa) sampai pada psikosis (penyakit jiwa). Hal ini bisa menimpa pada setiap orang, jika mengalami ketidak stabilan jiwa, baik anak kecil, orang muda maupun orang yang sudah usia lanjut.
konflik batin merupakan kondisi kejiwaan seseorang yang tidak mampu menyesuaikan diri dalam menghadapi masalah hidup atau merasa tidak tenang dalam menghadapi masalah. apabila seseorang tidak mampu mengatasi masalahnya, maka konflik ini menjadi sebab timbulnya gangguan jiwa (neurosis)
Neurosis merupakan keadaan yang tidak normal baik berhubungan dengan fisik maupun mental. keabnormalan tersebut bukan disebabkan rusaknya anggota badan, meskipun kendala gejalanya terlihat pada fisik.
konflik batin merupakan kondisi kejiwaan seseorang yang tidak mampu menyesuaikan diri dalam menghadapi masalah hidup atau merasa tidak tenang dalam menghadapi masalah. apabila seseorang tidak mampu mengatasi masalahnya, maka konflik ini menjadi sebab timbulnya gangguan jiwa (neurosis)
Neurosis merupakan keadaan yang tidak normal baik berhubungan dengan fisik maupun mental. keabnormalan tersebut bukan disebabkan rusaknya anggota badan, meskipun kendala gejalanya terlihat pada fisik.
Bentuk neurosis antara lain:
1. histeri yaitu penyakit mental yang ditandai dengan penderita suka menangis dan tertawa yang tidak terkendali kejang dll.
2. psikastania yaitu penyakit mental yang ditandai dengan misalnya cuci tangan atau mandi, takut, emosi terus menerus yang dipaksakan.
3. neurastenia yaitu penyakit mental yang ditandai dengan penderita tidak bertenaga meskipun sedikit tenaga yang harus dikeluarkan atau melakukan pekerjaan yang mestinya tidak berat, jika penderitaan ini tidak terpecahkan akan berakibat munculnya penyakit jiwa (psikosis)
Psikosis merupakan bentuk kekalutan jiwa yang dicirikan dengan disintregasi kepribadian dan terputusnya hubungan dirinya dengan realitas. seperti schizopenia, manic-depresif dan parancia.
pasien inilah yang kerap memadati RSJ.
Jenis jenis penderitaan tersebut disebabkan oleh ketidak mampuan mental menghadapi masalah hidup dan kehidupan. maka upaya mewujudkan keseimbangan hidup dan menjadikan hidup bermakna merupakan upaya berharga bagi terwujudnya kualitas manusia. karena kualitas manusia bukan hanya bukan hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual semata, tetapi kemampuan menyesuaikan diri merupakan perimbangan term lebih berarti jika mempunyai konotasi pada kemapuan intelektual dan kemampuan menyesuaikan diri.
Penyakit mental adalah penyakit yang melibatkan gangguan pada fungsi otak yang dapat menyebabkan perubahan ke proses pemikiran, perasaan dan tingkah-laku seseorang yang mengakibatkan gangguan untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik.
• Kajian pemantauan penyakit yang dilakukan di Malaysia pada tahun 1996 menemukan hampir 11.1% dari golongan dewasa Malaysia terdeteksi mengalami penyakit mental.
• Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan penyakit mental adalah antara 5 penyakit utama yang menyebabkan hilang-upaya di seluruh dunia dan diharapkan pada tahun 2020 penyakit ini akan menjadi penyebab kedua tertinggi. Apakah semua penyakit mental serupa?
Penyakit mental bukanlah hanya sejenis penyakit saja. Ia terdiri dari berbagai kategori penyakit. Secara umum penyakit mental dapat dibagi menjadi 3 kelompok utama:
1. Neurosis: o Mereka yang tergolong dalam grup ini biasanya mengalami perubahan dan gangguan di dalam pemikiran, perasaan dan perilaku tanpa mempengaruhi akal orang.
Orang yang mengalami penyakit neurosis biasanya sadar akan keadaan kesehatan mereka.Fungsi harian mereka mungkin terganggu sedikit. Antara contoh penyakit neurosis adalah sebagai berikut:
Depresi
Depresi adalah perasaan sedih yang berlebihan dan berkepanjangan. Sedih adalah perasaan yang sering kita alami. Akan tetapi jika perasaan sedih itu terlalu berat untuk ditanggung dan berkepanjangan melebihi masa 2 minggu serta menganggu fungsi kehidupan sehari-hari maka ia bukanlah sedih lazim tetapi penyakit depresi.
Kekhawatiran Penyakit ini digejalai oleh perasaan khawatir, resah dan gelisah. Seseorang itu akan merasa tertekan, tegang, berkeringat, berdebar-debar dan merasa takut berlebihan akan bahaya yang mereka tidak ketahui puncaknya.
2. Psikosis: Mereka yang mengalami penyakit psikosis mengalami perubahan yang sangat signifikan dalam pemikiran, perasaan dan tindakan mereka. Akal mereka juga terpengaruh
Penderita akan merasa keliru dengan mengalami suara-suara gaib berkomunikasi dengan mereka. Ia dikenal sebagai halusinasi. Mereka juga memiliki kepercayaan pelik yang tidak diadopsi oleh orang lain dan menyebabkan reaksi berlebihan dari pasien tersebut. Dan disebut delusi. Contoh delusi adalah - ada orang ingin menganiaya atau berbuat jahat kepada mereka menyebabkan mereka bertindak menyerang orang yang disyakitinya secara membahayakan.
Mereka mungkin berbicara dengan merapu / mengarut; berkelakuan aneh seperti berbicara seorang, ketawa atau marah tanpa sebab.
Contoh psikosis yang sering dialami adalah:
schizophrenia: Antara ciri utama adalah: halusinasi; delusi; kecelaruan pemikiran, kecelaruan suara dan perilaku. Prestasi kerja mereka juga turun dengan signifikan. Kecelaruan manik-depresif (dwikutub):
Penyakit ini mengakibatkan mereka mengalami perubahan signifikan dari segi emosi. Mereka sering hilang kontrol dan menjadi terlalu gembira (fase manik) atau terlalu sedih (fase depresi).
3. Kekacauan Kepribadian:
Secara dasarnya kecelaruan ini membuat seseorang itu mengalami cacat
karakter atau karakter. Masalah yang dialami ini bisa menberi kesan
ke hubungan interpersonal dengan orang di sekelilingnya.
Apa yang menyebabkan terjadinya penyakit mental?
Penyebabnya tidak diketahui dengan tepat. Kajian masih dilakukan untuk mewujudkan
penyebab sebenarnya penyakit ini. Namun ada beberapa faktor yang menyumbang terjadinya
penyakit mental.
Secara dasarnya kecelaruan ini membuat seseorang itu mengalami cacat
karakter atau karakter. Masalah yang dialami ini bisa menberi kesan
ke hubungan interpersonal dengan orang di sekelilingnya.
Apa yang menyebabkan terjadinya penyakit mental?
Penyebabnya tidak diketahui dengan tepat. Kajian masih dilakukan untuk mewujudkan
penyebab sebenarnya penyakit ini. Namun ada beberapa faktor yang menyumbang terjadinya
penyakit mental.
1. Faktor genetik / keturunan:
Anggota di dalam keluarga yang memiliki sejarah penyakit mental berisiko
lebih tinggi daripada populasi yang tiada sejarah penyakit terkait.
2. Gangguan bahan kimia dalam otak:
Bila bahan kimia dalam otak yang dikenal sebagai neurotransmitter tidak
berfungsi dengan baik gejala penyakit mental akan muncul. Sebagai
misalnya:
schizophrenia: Penghasilan dopamin secara berlebihan
Depresi: Tingkat serotonin terlalu rendah
Mania: Tingkat serotonin meningkat secara ekstrim
Kekhawatiran: ada gangguan di dalam produksi dan fungsi
noradrenalin
3. Infeksi virus:
Menurut kajian ada penyakit akibat infeksi virus telah dikaitkan
dengan kemunculan penyakit mental.
4. Sejarah hidup yang getir:
Sebagai contoh: mengalami proses kelahiran yang sulit, kehilangan
orangtua saat kecil, terlalu banyak mengalami tantangan hidup yang
sulit .
5. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah:
Faktor kemiskinan, tidak ada fasilitas dasar atau kekerasan di dalam
masyarakat dapat meningkatkan masalah penyakit mental.
Dapatkah penyakit mental diobati?
• Ya
• Kemajuan dalam bidang kedokteran modern telah memungkinkan penemuan obat-obat
yang lebih efektif dalam merawat penyakit mental.
• Hampir semua obat yang digunakan untuk merawat penyakit mental mengambil waktu
sebelum efek positifnya dapat dilihat. Kesabaran melakukan konsumsi obat secara konsisten dianjurkan.
• Selain obat psikotropik pendekatan dukungan seperti konseling, psikoterapi, terapi
kognitif, terapi berkelompok, terapi keluarga, pendidikan psikologi, terapi pemulihan
carakerja dan pemulihan psiko-sosial telah terbukti sama pentingnya.
Kita sebagai manusia tidak terlepas dari kekurangan dalam menyongsong masa depan penuh arti, namun saat kita membangun kita harus mengetahui siapakah kita sendiri, bagaimana dengan kita, apakah yanhg harus di hindari sebelum penyesalan datang menghantui.
Ini adalah 10 penyakit mental manusia yang terus menjadi batu sandungan kita, sebagai bahan perenungan yang mungkin bisa membantu kita semua :
1. MENYALAHKAN ORANG LAIN
Itu penyakit P dan K, yaitu Primitif dan Kekanak-kanakan. Menyalahkan orang lain adalah pola pikir orang primitif. Di pedalaman Afrika, kalau ada orang yang sakit, yang Dipikirkan adalah : Siapa nih yang nyantet ? Selalu “siapa” Bukan “apa” penyebabnya. Bidang kedokteran modern selalu mencari tahu “apa” sebabnya, bukan “siapa”. Jadi kalau kita berpikir menyalahkan orang lain, itu sama dengan sikap primitif. Pakai koteka aja deh, nggak usah pakai dasi dan jas.
Kekanak-kanakan. Kenapa ? Anak-anak selalu nggak pernah mau disalahkan. Kalau ada piring yang jatuh,” Adik tuh yang salah”, atau ” mbak tuh yang salah”. Anda pakai celana monyet aja kalau bersikap begitu. Kalau kita manusia yang berakal dan dewasa selalu akan mencari sebab terjadinya sesuatu.
2. MENYALAHKAN DIRI SENDIRI
Menyalahkan diri sendiri bahwa dirinya merasa tidak mampu. Ini berbeda dengan MENGAKUI KESALAHAN. Anda pernah mengalaminya? Kalau anda bilang tidak pernah, berarti anda bohong. “Ah, dia sih bisa, dia ahli, dia punya jabatan, dia berbakat dsb, jadi saya ini apa ?, wah saya nggak bisa deh. Dia S3, lha saya SMP, wah nggak bisa deh. Dia punya waktu banyak, saya sibuk, pasti nggak bisa deh”. Penyakit ini seperti kanker, tambah besar, besar di dalam mental diri sehingga bisa mencapai “improper guilty feeling”.
Jadi walau yang salah partner, anak buah, atau bahkan atasan, berani bilang “Saya kok yang memang salah, tidak mampu dsb”. Penyakit ini pelan-pelan bisa membunuh kita. Merasa in feri or, kita tidak punya kemampuan. Kita sering membandingkan keberhasilan orang lain dengan kekurangan kita, sehingga keberhasilan orang lain dianggap Wajar karena mereka punya sesuatu lebih yang kita tidak punya.
3. TIDAK PUNYA GOAL atau CITA-CITA
Kita sering terpaku dengan kesibukan kerja, tetapi arahnya tidak jelas. Sebaiknya kita selalu mempunyai target kerja dengan milestone. Buat target jangka panjang dan jangka pendek secara tertulis. Ilustrasinya kayak gini : Ada anjing jago lari yang sombong. Apa sih yang nggak bisa saya kejar, kuda aja kalah sama saya. Kemudian ada kelinci lompat-lompat, kiclik, kiclik, kiclik. Temannya bilang:
“Nah tuh ada kelinci, kejar aja”. Dia kejar itu kelinci, wesss…., kelinci lari lebih kencang, anjingnya ngotot ngejar dan kelinci lari sipat-kuping (sampai nggak dengar / peduli apa-apa), dan akhirnya nggak terkejar, kelinci masuk pagar. Anjing kembali lagi ke temannya dan diketawain.
“Ah lu, katanya jago lari, sama kelinci aja nggak bisa kejar. Katanya lu paling kencang”.
“Lha dia goalnya untuk tetap hidup sih, survive, lha gua goalnya untuk fun aja sih”.
Kalau “GOAL” kita hanya untuk “FUN”, isi waktu aja, ya hasilnya cuma terengah-engah saja.
4. MEMPUNYAI “GOAL”, TAPI NGAWUR MENCAPAINYA
Biasanya dialami oleh orang yang tidak “teachable”. Goalnya salah, focus kita juga salah, jalannya juga salah, arahnya juga salah. Ilustrasinya kayak gini : ada pemuda yang terobsesi dengan emas, karena pengaruh tradisi yang mendewakan emas. Pemuda ini pergi ke pertokoan dan mengisi karungnya dengan emas dan seenaknya ngeloyor pergi. Tentu saja ditangkap polisi dan ditanya. Jawabnya : Pokoknya saya mau emas, saya nggak mau lihat kiri-kanan.
5. MENGAMBIL JALAN PINTAS, SHORT CUT
Keberhasilan tidak pernah dilalui dengan jalan pintas. Jalan pintas tidak membawa orang ke kesuksesan yang sebenarnya, real success, karena tidak mengikuti proses. Kalau kita menghindari proses, ya nggak matang, kalaupun matang ya dikarbit. Jadi, tidak ada tuh jalan pintas. Pemain bulutangkis Indonesia bangun jam 5 pagi, lari keliling Senayan, melakukan smesh 1000 kali. Itu bukan jalan pintas. Nggak ada orang yang leha-leha tiap hari pakai sarung, terus tiba- tiba jadi juara bulu tangkis. Nggak ada ! Kalau anda disuruh taruh uang 1 juta, dalam 3 minggu jadi 3 juta, masuk akal nggak tuh? Nggak mungkin !. Karena hal itu melawan kodrat.
6. MENGAMBIL JALAN TERLALU PANJANG, TERLALU SANTAI
Analoginya begini : Pesawat terbang untuk bisa take-off, harus mempunyai kecepatan minimum. Pesawat Boeing 737, untuk dapat take- off, memerlukan kecepatan minimum 300 km/jam. Kalau kecepatan dia cuma 50 km/jam, ya Cuma ngabis-ngabisin avtur aja, muter-muter aja. Lha kalau jalannya, runwaynya lurus anda cuma pakai kecepatan 50 km/jam, ya nggak bisa take-off, malah nyungsep iya. Iya kan ?
7. MENGABAIKAN HAL-HAL YANG KECIL
Dia maunya yang besar-besar, yang heboh, tapi yang kecil-kecil nggak dikerjain. Dia lupa bahwa struktur bangunan yang besar, pasti ada komponen yang kecilnya. Maunya yang hebat aja. Mengabaikan hal kecil aja nggak boleh, apalagi mengabaikan orang kecil.
8. TERLALU CEPAT MENYERAH
Jangan berhenti kerja pada masa percobaan 3 bulan. Bukan mengawali dengan yang salah yang bikin orang gagal, tetapi berhenti pada tempat yang salah. Mengawali dengan salah bisa diperbaiki, tetapi berhenti di tempat yang salah repot sekali.
9. BAYANG BAYANG MASA LALU
Wah puitis sekali, saya suka sekali dengan yang ini. Karena apa ? Kita selalu penuh memori kan ? Apa yang kita lakukan, masuk memori kita, minimal sebagai pertimbangan kita untuk langkah kita berikutnya. Apalagi
kalau kita pernah gagal, nggak berani untuk mencoba lagi. Ini bisa balik lagi ke penyakit nomer-3. Kegagalan sebagai akibat bayang-bayang masa lalu yang tidak terselesaikan dengan semestinya. Itu bayang-bayang negatif. Memori kita kadang- kadang sangat membatasi kita untuk maju ke depan. Kita kadang-kadang lupa bahwa hidup itu maju terus. “Waktu” itu maju kan ?. Ada nggak yang punya jam yang jalannya terbalik ?? Nggak ada kan ?
Semuanya maju, hidup itu maju. Lari aja ke depan, kalaupun harus jatuh, pasti ke depan kok. Orang yang berhasil, pasti pernah gagal. Itu memori negatif yang menghalangi kesuksesan.
10. MENGHIPNOTIS DIRI DENGAN KESUKSESAN SEMU
Biasa disebut Pseudo Success Syndrome. Kita dihipnotis dengan itu. Kita kalau pernah berhasil dengan sukses kecil, terus berhenti, nggak kemana-mana lagi.Sudah puas dengan sukses kecil tersebut. Napoleon pernah menyatakan: “Saat yang paling berbahaya datang bersama dengan kemenangan yang besar”. Itu saat yang paling berbahaya, karena orang lengah, mabuk kemenangan. Jangan terjebak dengan goal-goal hasil yang kecil, karena kita akan menembak sasaran yang besar, goal yang jauh. Jangan berpuas diri, ntar jadi sombong, terus takabur.
Sudah saatnya kita memperbaiki kehidupan kita. Kesempatan terbuka lebar untuk siapa saja yang ingin maju.
Action may not always bring success, but there is no success without action.
“Usaha dan tindakan tidak selalu menghasilkan keberhasilan/ sukses, tetapi… Tidak ada keberhasilan dan sukses TANPA usaha dan tindakan.”
(Greg Phillips- Benjamin Disraeli)
Dengan kata lain orang yang pandai adalah manusia yang tidak hanya mempunyai kapasitas kecerdasan intlektual saja tetapi juga kecerdasan emosional. dan kecerdasan spiritual.
Terima Kasih.
Referensi :
• www.medscape.com / medscape / Psychiatry / clinicalupdate • American Psychiatric Association
COMMENTS